Break Even Point (BEP) atau titik impas adalah kondisi di mana total pendapatan sama persis dengan total biaya, sehingga organisasi tidak mengalami untung maupun rugi. Meskipun istilah ini sering dikaitkan dengan bisnis komersial, konsep BEP juga relevan bagi organisasi non-profit dalam merencanakan program atau kegiatan berbayar seperti pelatihan, seminar, atau layanan berbasis biaya.

Untuk menghitung BEP, organisasi perlu memisahkan biaya menjadi dua kategori: biaya tetap, yaitu biaya yang jumlahnya tidak berubah terlepas dari jumlah peserta atau penerima manfaat, dan biaya variabel, yaitu biaya yang berubah sesuai jumlah peserta. Contoh biaya tetap adalah sewa tempat, sedangkan biaya variabel bisa berupa konsumsi per peserta.

Rumus dasar BEP dalam unit adalah biaya tetap dibagi dengan selisih antara harga jual per unit dan biaya variabel per unit. Hasilnya menunjukkan berapa jumlah peserta atau unit yang harus tercapai agar kegiatan tidak merugi. Jika target realistis berada di atas angka BEP, kegiatan tersebut berpotensi menghasilkan surplus yang bisa dialokasikan untuk program lain.

Menghitung BEP sebelum menjalankan sebuah program membantu organisasi non-profit membuat keputusan yang lebih matang, misalnya menentukan harga tiket pelatihan, jumlah peserta minimum, atau apakah suatu kegiatan perlu subsidi tambahan dari sumber dana lain. Dengan begitu, keberlanjutan program dapat direncanakan dengan lebih terukur, bukan sekadar berdasarkan perkiraan.

Bagikan artikel ini:


Kelola keuangan yayasan pendidikan Anda lebih mudah dengan SIKUAT. Coba demo gratis dan lihat bagaimana SIKUAT membantu laporan keuangan, ISAK 35, dan approval berjalan lebih efisien.