Laporan arus kas (cash flow statement) adalah laporan yang menunjukkan pergerakan kas dan setara kas dalam suatu organisasi selama satu periode. Berbeda dengan laporan aktivitas yang mencerminkan surplus atau defisit berbasis akrual, laporan arus kas menampilkan kas riil yang masuk dan keluar — sesuatu yang krusial bagi yayasan pendidikan untuk memastikan operasional harian tetap berjalan.

Bagi yayasan pendidikan yang mengelola SPP, hibah, sumbangan, dan pengeluaran rutin gaji dosen serta biaya operasional, laporan arus kas menjadi alat pemantauan likuiditas yang tidak boleh diabaikan. Surplus di laporan aktivitas tidak selalu berarti kas yayasan aman — bisa saja pendapatan tercatat tapi belum diterima kasnya.

Tiga Aktivitas Utama dalam Laporan Arus Kas

Sesuai PSAK 2 dan disesuaikan dengan ISAK 35 untuk organisasi non-laba, laporan arus kas dibagi menjadi tiga bagian:

  1. Arus Kas dari Aktivitas Operasional — mencerminkan penerimaan kas dari aktivitas utama yayasan seperti SPP, sumbangan tidak terikat, hibah operasional, dikurangi pengeluaran untuk gaji, listrik, air, ATK, dan biaya operasional lainnya. Angka positif menandakan operasional yayasan menghasilkan surplus kas.
  2. Arus Kas dari Aktivitas Investasi — mencakup pembelian aset tetap (gedung, laboratorium, kendaraan), penambahan investasi jangka panjang, atau sebaliknya penerimaan dari penjualan aset. Bagi yayasan pendidikan yang aktif membangun fasilitas, arus kas investasi biasanya negatif dalam jumlah besar.
  3. Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan — mencakup penerimaan kas dari pinjaman bank, hibah terikat untuk proyek tertentu, atau pengembalian pinjaman. Untuk yayasan yang tidak berutang, bagian ini seringkali minimal.

Metode Langsung vs Tidak Langsung

Ada dua cara menyusun laporan arus kas dari aktivitas operasional. Metode langsung menampilkan penerimaan dan pengeluaran kas per kategori secara rinci — misal “Penerimaan SPP: Rp 2,5 miliar”, “Pembayaran gaji: Rp 1,8 miliar”. Metode ini lebih intuitif dibaca pengurus non-akuntan. Metode tidak langsung dimulai dari surplus/defisit di laporan aktivitas, lalu disesuaikan dengan pos non-kas seperti penyusutan dan perubahan modal kerja. Metode ini lebih umum dipakai karena datanya lebih mudah diambil dari sistem akuntansi.

Yang Harus Diperhatikan Saat Membaca

Ketika membaca laporan arus kas yayasan, perhatikan tiga hal utama. Pertama, apakah arus kas operasional positif secara konsisten? Kalau rutin negatif, artinya operasional yayasan menggerus kas — perlu evaluasi tarif SPP atau efisiensi biaya. Kedua, seberapa besar pengeluaran investasi dan sumber pendanaannya? Kalau investasi besar tanpa hibah atau pinjaman, artinya diambil dari saldo kas — berisiko menghabiskan cadangan operasional. Ketiga, saldo akhir kas — cukupkah menutupi biaya operasional 2-3 bulan ke depan sebagai buffer aman?

Menghubungkannya dengan Laporan Lain

Laporan arus kas tidak berdiri sendiri. Saldo akhir kas di laporan ini harus sama dengan pos kas dan setara kas di Laporan Posisi Keuangan. Selisih antara laba/surplus di laporan aktivitas dengan arus kas operasional biasanya berasal dari penyusutan, piutang yang belum diterima, atau utang yang belum dibayar. Trio laporan ini — posisi keuangan, aktivitas, dan arus kas — menjadi dasar analisis kesehatan finansial yayasan pendidikan yang komprehensif.


Kelola keuangan yayasan pendidikan Anda lebih mudah dengan SIKUAT. Coba demo gratis dan lihat bagaimana SIKUAT membantu penyusunan laporan keuangan, workflow approval berjenjang, dan konsolidasi antar-unit berjalan lebih efisien.